Wednesday, June 22, 2005

Vietnam: Negara Cantik Ini…

Rating:★★★★
Category:Other
Negara cantik ini terletak di kawasan Indo-Cina, bertetanggaan dengan Kamboja, Laos dan Cina, serta kaya dengan kebudayaan dan keindahan alam. Penduduknya hidup dengan damai dan tenteram, berpendidikan serta santun. Inilah Vietnam. Walau masa lalunya banyak bergurat dengan peperangan dan kesedihan, Vietnam sekarang sudah mulai bangkit menunjukkan keperkasaannya. Sektor ekonomi di berbagai industri telah menggeliat dan gerbang bagi pelancong juga sudah terbuka lebar. Ini terbukti dari investasi luar negeri yang deras berdatangan serta dibebaskannya visa turis bagi pengunjung yang berasal dari negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Sebelum berangkat, kerap kawan dan kerabat bertanya mengapa kami memilih Vietnam sebagai destinasi liburan. Kami menjawab dengan mengatakan bahwa kami ingin melihat Vietnam sebelum negara itu terlalu banyak berubah terhembus angin modernisasi. Namun, pada saat itu kami sendiri belum yakin apa yang akan kami temukan!

Kami melewatkan hampir dua minggu di Vietnam dan melakukan perjalanan melalui darat, udara dan air, dimulai dengan Ho Chi Minh City (HCMC) yang hiruk-pikuk sebagai urat nadi ekonomi, Hué yang bersejarah, Halong Bay yang luar biasa indah serta Hanoi yang elok dan romantis.

Ada dua hal yang langsung menarik perhatian kami ketika tiba di Vietnam. Pertama adalah bahwa negara ini dipenuhi oleh kendaraan beroda dua. Jarang sekali ada mobil pribadi yang berlalu-lalang di jalanan dibandingkan dengan motor dan sepeda, bahkan dengan kendaraan umum dan pejalan kaki. Yang satunya lagi adalah, hampir tidak ada warganya, laki-laki maupun perempuan, tua atau muda, yang bertubuh tambun. Tak pelak lagi kami berpikir bahwa kedua hal tersebut pasti saling berhubungan. Namun setelah melewatkan waktu yang cukup di Vietnam, kami menemukan bahwa tak hanya masalah transportasi, namun makanan, tradisi bekerja keras dan budaya turut memberikan andil dalam paradigma penduduk bertubuh langsing ini!

Ho Chi Minh City

Sebagai pemberhentian pertama, kami melewatkan beberapa hari di HCMC, kota bersejarah namun modern dan penuh warna ini. Dengan penduduk lebih dari 7 juta orang, HCMC yang dulu bernama Saigon, adalah kota terbesar di Vietnam. Hotel-hotel internasional berbintang lima bertaburan dan banyak perwakilan perusahaan asing berbasis di kota ini. Toko-toko yang menjajakan segala kebutuhan manusia juga bisa ditemukan. Sarat dengan monumen historis seperti Museum of Ho Chi Minh City, History Museum, Reunification Palace, Fine Arts Museum, Notre Dame Cathedral, Central Post Office, pagoda-pagoda Jade Emperor dan Giac Lam serta masih banyak lagi, HCMC adalah surga bagi pecinta belanja serta sejarah.

Terbagi menjadi 16 distrik urban dan 5 distrik rural, kawasan malam HCMC terdapat di Dong Khoi yang terletak di Distrik 1, dimana banyak terdapat kafe udara terbuka maupun segala macam restoran dan bar. Peninggalan penjajahan Perancis yang sangat terlihat di Vietnam, selain dari arsitektur kota atau bangunan, adalah budaya ‘ngopi’ penduduknya yang gemar bersendau gurau di kafe pinggir jalan sambil mengesap kopi Vietnam yang manis dan kental. Tak lupa kami mencicipi kopi Vietnam andalan tersebut di kedai kopi Starblack (ini bukan salah tulis, kedai kopi itu memang bernama Starblack!) yang cukup populer sambil beraksi seperti orang lokal. Melewati malam minggu sambil berjalan-jalan di Dong Khoi sambil menyantap makanan Vietnam yang nikmat dan segar, serta dikelilingi oleh kawula muda HCMC yang modis dan rupawan, sungguh sudah merupakan hiburan tersendiri. Boleh ditambahkan bahwa bar dan klub malam yang ditawarkan oleh HCMC tak kalah seru dan bergairah dibandingkan dengan yang ada di kota-kota besar lainnya di Asia.

Distrik Cholon, nama yang diberikan untuk kawasan yang mayoritas dihuni oleh keturunan ras Cina, patut dikunjungi karena banyak terdapat bangunan kuil dan pagoda yang bernafaskan budaya tersebut. Di kawasan ini pula terdapat pusat-pusat perbelanjaan semacam Mangga Dua yang tak pantas dilewatkan jika ingin mendapatkan berbagai benda menarik khas Vietnam. Salah satu lagi area menarik yang kami kunjungi adalah kawasan Pham Ngu Lao, yaitu pusatnya para wisatawan beransel. Disini kami menemukan ‘kampung’ turis penuh dengan bar, hotel dan restoran yang dipadati oleh manusia dari berbagai manca negara.

Hué

Setelah HCMC, kami terbang ke Hué yang terletak di Vietnam Tengah yang berpenduduk seperempat juta jiwa dan terletak di kedua sisi Perfume River. Secara historis Hué merupakan pusat budaya, pendidikan dan agama di Vietnam dan sempat menjadi ibukota pada kerajaan masa lampau. Kota Hué menyimpan sejumlah pagoda, kuil dan pusara megah dari dinasti Nguyen serta Royal Citadel yang patut dikunjungi. Dengan mengendarai sebuah kapal, kami seharian penuh menelusuri Perfume River untuk melihat peninggalan bersejarah yang sungguh mengagumkan dan menikmati pemandangan alam yang indah. Dua pusara yang membuat kami sungguh terkesan adalah pusara Tu Duc dan Minh Mang. Tak kami sangka betapa kayanya budaya Vietnam!

Berhawa sejuk dan bergaya hidup tenang tak tergesa-gesa, kota ini mengingatkan kami dengan paduan kota Bogor dan Yogyakarta pada tahun 80’an. Kami tak heran bahwa kerajaan masa lalu Vietnam memilih kota Hué sebagai ibukotanya. Dengan latar belakangnya itu, Hué juga terkenal sebagai pusat kuliner Vietnam. Di kota ini kami menikmati berbagai masakan lezat yang sulit dijumpai di kota-kota lain di Vietnam seperti banh bo (semacam lontong dengan gerusan udang) dan bun bo he (bihun kering dengan sayur dan sup daging sapi).

Hari berikutnya di Hué kami lewatkan dengan mengikuti tur DMZ (Demilitarised Zone). DMZ adalah area perbatasan antara Vietnam Selatan dan Vietnam Utara yang ditetapkan oleh Konperensi Postdam pada tahun 1945 dan merupakan salah satu area yang paling banyak memakan korban pada saat perang Vietnam dan Amerika. Salah satu yang paling menarik dari tur ini adalah ketika kami mengunjungi Vin Moc Tunnels. Sebelum perang, Vin Moc merupakan sebuah desa nelayan yang tentram. Setelah berkali-kali desa Vin Moc dibombardir, para penduduknya sepakat untuk memindahkan desa tersebut ke bawah tanah. Kami menelusuri lorong bawah tanah sepanjang 2,8 kilometer dengan kedalaman 15 hingga 26 meter, dimana pada zaman perang pernah tinggal puluhan keluarga selama bertahun-tahun dengan fasilitas seperti sekolah, tempat bersalin, bioskop dan lain sebagainya.


Halong Bay

Puas menjelajahi Hué, kami berangkat menumpang pesawat dengan tujuan Hanoi, ibukota Vietnam yang terletak di bagian utara. Namun setelah tiba, kami langsung menyambung perjalanan kami melalui darat untuk menuju ke Halong Bay. Halong Bay yang terletak di Teluk Tonkin, terdiri dari lebih dari 3000 pulau yang menjulang dan merupakan salah satu situs World Heritage di Vietnam. Pertama kali kami melihat pemandangan Halong Bay yang mengagumkan dari jendela mobil, hanya mulut berbentuk O saja yang dapat kami lakukan. Tidak ada kata-kata yang secara eksplisit dapat melukiskan betapa magisnya skene Halong Bay!

Saat-saat matahari terbit dan tenggelam adalah waktu yang tepat untuk menikmati keindahan pemandangan Halong Bay. Untuk menyaksikan kemegahannya lebih dekat, kami menyewa sebuah kapal sehari penuh untuk mengelilingi area tersebut dan juga untuk berhenti di beberapa pulau yang terdapat gua yang bisa dieksplorasi. Beberapa gua yang patut dikunjungi adalah Hang Dau Go dan Hang Sung Sot yang penuh dengan stalaktit dan stalagmit raksasa yang menakjubkan. Tak cuma itu, setiap malam di Halong City kami puas menyantap hidangan laut beraneka ragam yang segar dan lezat. Setelah beberapa hari menikmati Halong Bay kami langsung berangkat untuk menuju kembali ke Hanoi, beravonturir dengan menumpang bus umum antar kota yang padat sesak oleh manusia dan bawaan. Pelayanan dan kondisi bus tersebut tak beda jauh dengan bus umum antar kota yang biasa kita dapat tumpangi di pulau Jawa, sehingga mau tidak mau kerinduan kami pada Tanah Air sedikit terobati!

Hanoi

Hanoi dengan jumlah penduduk 3,5 juta jiwa dan terkenal dengan Opera House-nya serta dihiasi oleh danau, taman, pohon rindang dan jalan-jalan luas bak kota Paris, ternyata juga menyimpan segudang tujuan wisata yang menarik. Sebagai ibukota negara, terdapat banyak bangunan pemerintah serta wakil kedutaan negara-negara sahabat, sehingga gedung dan rumah yang berarsitektur kolonial Perancis berderet bagaikan perhiasan di jalanan utama turut menambah keelokan kota.

Saat tiba, tujuan pertama kami adalah Danau Hoan Kiem yang terletak di jantung kota Hanoi. Sambil duduk di salah satu café yang mengelilingi danau tersebut yang menjajakan es krim dan kue, kami menghabiskan satu sore yang santai, asyik menonton warga Hanoi dan turis saling berlalu-lalang.

Keesokan harinya kami mengunjungi Ho Chi Minh Mausoleum dimana kami menyaksikan jasad Ho Chi Minh yang telah diawetkan. Dalam kompleks yang sama, kami mengunjungi rumah sederhana yang dulu ditempati Ho Chi Minh serta istana presiden. Terlihat sekali bahwa warga Vietnam masih sangat menghomati pahlawan mereka yang satu ini. Tak lupa kami menyempatkan untuk melihat pagoda One Pillar yang dibangun pada abad 11 oleh Kaisar Ly Thai Tong sebagai tanda terima kasih karena dikaruniai putra mahkota, yang terletak tak jauh dari situ.

Suguhan tarian tradisional Vietnam di Opera House yang terkenal kami nikmati pada malam harinya yang dilanjutkan dengan mencoba masakan ikan terkenal khas Hanoi yaitu cha ca di restoran La Vong yang pada kartu menunya cukup hanya tertera satu kalimat: “Di restoran ini kami hanya menyuguhkan cha ca. Trims.” Tak diragukan kenikmatannya!

Hari terakhir kami di Hanoi kami lewati dengan mengunjungi Temple of Literature, tempat dimana universitas Vietnam yang pertama berdiri pada tahun 1076 serta bertujuan untuk mendidik putra-putra bangsawan. Kami hampir tak percaya bahwa Vietnam sudah memiliki sebuah perguruan tinggi sejak hampir seribu tahun yang lalu! Setelah puas melongok-longok di tempat bersejarah itu, kami menulusuri daerah Old Quarter yang dibangun pada saat yang hampir bersamaan dengan Temple of Literature. Beberapa abad setelah dibangun, perkumpulan pedagang di Hanoi membagi ke-36 jalan di area ini sesuai dengan barang dagangan mereka sehingga ada jalan yang bernama Jalan Sutera, Jalan Cermin, Jalan Timah dan lain sebagainya. Hingga saat ini, kawasan Old Quarter tetap menjadi salah satu pusat belanja utama di Hanoi.

Kuil Ngoc Son yang terletak di sebuah pulau di tengah Danau Hoan Kiem adalah tujuan berikut kami. Kuil ini dapat dicapai melalui jembatan kayu The Huc yang berwarna merah. Mungkin karena lokasi dan juga keindahan arsitekturnya, melewatkan beberapa waktu di kuil ini sungguh meneduhkan jiwa. Acara sore kami pada hari itu dilanjutkan dengan menikmati tontonan memikat khas Hanoi yang digemari oleh anak-anak maupun dewasa: Water Puppet Theatre; yaitu semacam pertunjukan wayang golek yang digelar di atas panggung air diiringi oleh musik dan nyanyian hidup tradisional.

Setelah hampir dua minggu kami bersantap masakan ala Vietnam untuk tiap makan pagi, siang dan malam, baik itu di warung pinggir jalan, restoran hotel maupun kafe turis; kami sepakat untuk memanjakan diri dengan bersantap malam di sebuah restoran Perancis di Hanoi yang paling elegan, yaitu The Press Club yang terletak di depan hotel Sofitel Metropole yang mewah pada malam terakhir kami di Vietnam. Kami rasa ini merupakan cara perayaan yang tepat untuk mengakhiri sebuah liburan yang mengesankan!

Keesokan harinya kami tinggal landas untuk kembali ke kota tempat tinggal masing-masing dengan membawa sejuta kenangan dan berjanji kepada diri sendiri untuk suatu saat kembali mengunjungi negeri yang menyimpan berbagai kejutan indah itu. Kerap kami ditanya oleh kawan dan kerabat mengenai petualangan kami sekembali dari Vietnam dan jawaban kami selalu dimulai dengan: “Negara cantik ini….” dengan mata menerawang dan senyum mengembang.


Tempat menginap yang direkomendasikan:
HCMC: The Rex, Caravelle, Sofitel Plaza
Hué: Saigon Morin, Century
Halong City: Halong Plaza, Heritage Halong
Hanoi: Sofitel Metropole, Guoman Hotel, Hilton Opera

Si penulis: Fathia Syarif lahir dan bermukim di Jakarta. Ia tertarik pada pelancongan dunia, petualangan, sejarah, sastra, budaya, seni kuliner, sesama manusia dan kehidupan.

Si fotografer: Benny Asrul adalah warga negara Indonesia yang sedang berdomisili di Singapura. Ia gemar menjalajahi bumi dan memotret di segala penjuru dunia. Seorang avonturir yang introvert, ia bekerja di sebuah perusahaan minyak.

Fathia dan Benny bersahabat karib. Ini adalah petualangan mereka bersama yang pertama

2 comments:

tiurma hasibuan said...

boleh tau ga?? habis berapa yah untuk kesini??? termasuk hotel2 yg direkomendasikan. Th'x

Nhix Afnie said...

saya juga pengen tau... smoga nanti saya bs ksana.... Hemm.......